Terkadang kita harus (sedikit) ‘nakal’ untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Eits, jangan berpikiran negatif dulu ya dengan kata ‘nakal’ yang tertulis di atas.
Manusia diciptakan dengan ‘isi kepala’ yang berbeda-beda. Setiap orang punya pandangan dan pendapat yang berbeda. Apa yang kita inginkan belum tentu diinginkan oleh orang lain. Apa yang kita anggap baik belum tentu dinggap baik oleh orang lain. Begitu pula ketika kita memiliki ‘mimpi’ tetapi tidak mendapat dukungan dari orang di sekeliling kita, terutama orang tua kita. Dilema. Di satu sisi kita ingin tetap memperjuangkan apa yang kita inginkan, tapi di sisi lain terbentur oleh keinginan orang tua.
Beberapa bulan lalu, kalau saja saya tidak sedikit ‘nakal’, tentu sekarang saya berada di suatu tempat yang tidak saya inginkan. Namun, kenakalan saya itu pun -saya yakin- termasuk dalam skenario yang Allah tuliskan untuk saya.
Awalnya, orang tua saya tidak setuju ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di jurusan komunikasi. Keikutsertaan saya dalam sebuah pelatihan jurnalistik saat duduk di kelas dua sma menumbuhkan minat besar saya pada dunia jurnalistik dan fotografi. Menurut orang tua saya, seorang cewek lebih baik menjadi pekerja kantoran daripada menjadi seorang jurnalis. Pekerjaan yang jam kerjanya tidak jelas, kata mereka. Jam berapa pun harus ’siap’ hunting news. Apalagi nanti kalau sudah punya suami takutnya tidak bisa mengatur rumah tangga dengan baik. (jauh amat mikirnya). Namun, karena saya merasa saya harus tetap memperjuangkan mimpi saya, apapun yang terjadi, akhirnya saya ‘nekat saja’ ikut spmb ipc dengan pilihan pertama ilmu komunikasi. Jelas orang tua saya tidak setuju, mereka ingin saya kuliah di kedokteran (keinginan semua orang tua) dan karena saya kekeuh dengan pendirian saya, mau tidak mau orang tua mengalah. Akhirnya. Hehe.
Waktu pengumuman spmb, saya sempat shock. Nomor yang saya tuliskan (saya lihat lewat internet) tidak terdaftar sebagai peserta yang lolos. Blarrr… Saya lemas. Tapi tiba-tiba salah seorang teman saya memberikan ucapan selamat lewat sms karena saya lolos spmb dan diterima pada pilihan pertama saya. Jelas dong awalnya saya tidak percaya, apalagi baru saja saya lihat sendiri tidak lolos. Saya pun mencoba mengulangi dengan memasukkan nama lengkap saya. Legaaaaaa… Ternyata memang benar saya diterima di jurusan yang saya inginkan. Ternyata (lagi) tadi saya salah menulis nomor ujian saya. Hehe. Senang sekali rasanya. Perjuangan tiga bulan saya belajar materi ips tanpa les berakhir membahagiakan.
Dari situlah, orang tua saya sadar bahwa keinginan saya itu bukan main-main. Tapi ini belum berakhir, karena masih banyak hal yang perlu saya buktikan pada mereka bahwa saya mampu bertanggung jawab atas segala keputusan yang saya ambil. ^^

