h1

Fotoku lolos kurasi. Hmm….. (part2)

Mei 17, 2009

Ada yang tanya, foto yang lolos kurasi mana?

Duhh, sayaaang banget. Karena motretnya pakai kamera analog dan pakai film, jadi yaa gak bisa di upload deh. Emang sih bisa di-scan, tapi ribet. Hehehe. Tapi ini Avi sempet motret juga pas di pantai Depok, Jogja. Hmm, ini salah satunya….

senja di pantai depok

senja di pantai depok

h1

Fotoku lolos kurasi. Hmm….

Mei 13, 2009

‘Vi, fotomu lolos kurasi lho…’

Hmm, perasaan gak ngumpulin foto buat kurasi, tapi kok lolos? Hehehehe…

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu, FFC (Fisip Fotografi Club) mengadakan acara tahunan ‘fotografi hitam-putih’ atau BW. Acaranya dua hari. Hari pertama, ada pengenalan materi fotografi hitam putih. Hari kedua, kita ada hunting BW di beberapa tempat di Jogja.

Teknik-teknik fotografi hitam putih gak beda jauh sama fotografi warna. Cuma, di acara BW ini, tiap anggota punya kesempatan buat cuci-cetak film sendiri. Mmm, lumayan ribet sih, tapi asyik. Apalagi pas ngeluarin film sama proses cetaknya yang harus dilakukan di ruangan super duper gelap. Kamar gelap.

Karena kamar gelap FFC sangat sederhana dan ukurannya lumayan kecil, jadi ya bisa dibayangin gimana ’serunya’ bergelap-gelap ria di dalem. Whuu, pengalaman yang gak terlupakan.. Hehehe…

Hmm, gak puas donk kalau foto yang dibuat, gak dicetak. Gak bisa tau donk, hasilnya bagus apa gak? Jadi, saya nyoba-nyoba aja buat nyetak satu foto yang lumayan menarik. Dibantu sama beberapa senior FFC, akhirnya satu foto yang saya ambil ‘berbentuk’. Yaa, meskipun harus melewati percobaan gagal berkali-kali. Hehehe. Gak gagal, gak belajar.

Niatnya sih cuma iseng gitu doang. Gak pengen masukin foto yang udah jadi itu buat ikut kurasi pameran. Tapi, eh, berhubung gak semua anggota ngumpulin foto buat kurasi, akhirnya fotoku disertakan juga di proses kurasi. Ternyata, eh, ternyata, foto itu malah lolos kurasi. Hmm, tak terduga..

Berarti masih punya PR ni buat nyetak foto lagi dengan ukuran 10 R. Wuaduu.. Semangat!

h1

Doa

April 19, 2009

“Wanita cantik,
menempa kekuatan lewat masalah
tetap tersenyum saat tertekan
tetap tertawa meski hati terluka
tabah walau dihina
dan mempesona karena memaafkan

Wanita cantik,
bertambah kuat dalam doa dan harapan
selalu mengasihi tanpa pamrih”

Ya Allah, betapa sulitnya belajar sabar menghadapi masalah yang Kau berikan.
Betapa sulitnya tersenyum ketika hati ini tertekan.
Betapa sulitnya tertawa ketika hati ini terluka.
Betapa sulitnya tabah ketika hinaan menyerang.
Betapa sulitnya belajar memaafkan orang yang telah melukai.

Ya Allah, ajari aku untuk ikhlas menerima segala rencana-Mu.
Ajari aku untuk kuat menghadapi ujian-Mu.
Ajari aku untuk tabah menjalani skenario yang telah Kau tuliskan untukku…

Ya Allah, aku percaya ada hikmah dibalik segala musibah.
Aku yakin Kau selalu ada untuk menjagaku.
Tidak memberiku masalah yang tak dapat aku selesaikan.

Ya Allah, aku yakin dan percaya,
RENCANA MU SEMPURNA…

h1

Februari 13, 2009

Wee, ternyata sudah lama saya tidak posting artikel dan saya baru sadar ketika salah seorang teman saya mengirim email yang isinya nasihat yang cukup ‘menyindir’.

Dalam email itu, dia bertanya tentang aktivitas membaca saya. Sindiran pertama, karena akhir-akhir ini saya memang jadi jarang membaca. Hehe. Dia bertanya seperti itu lantaran dia yang seorang jurnalis merasa khawatir terhadap jurnalis-jurnalis muda sekarang yang dalam menulis artikel semakin tidak memiliki ‘nyawa’. Hal itu dikarenakan menurunnya aktivitas membaca yang berimplikasi pada tulisan yang dibuat. Selain itu mereka lebih cenderung ‘mengejar setoran’ berita daripada membuat berita yang ‘bermutu’.

Sindiran kedua, dia bertanya apakah saya masih kontinyu belajar motret. Menurutnya, belajar fotografi itu seperti belajar menulis. Jika tidak dilatih secara kontinyu, maka ilmunya bisa tumpul.

Sindiran ketiga tentang ‘mimpi’ saya. Dia bilang bahwa sekarang bukan lagi saatnya untuk bermimpi tapi mulai belajar mengenai ide, karena inilah yang akan menjadi landasan ketika saya berbenturan dengan realita. Hyaa, kalau yang ini, jujur, saya belum tau maksudnya. Hehehe.

Yaa, sebenarnya masih ada lagi ’sindiran’ untuk saya. Namun, pada intinya, dia ingin saya untuk ’segera sadar’ bahwa dunia nyata itu kejam dan saya harus ‘keras’ pada diri sendiri agar nantinya saya tidak shock ketika benar-benar terjun dalam dunia kerja.

h1

Curhat…

Januari 7, 2009

Terkadang kita harus (sedikit) ‘nakal’ untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Eits, jangan berpikiran negatif dulu ya dengan kata ‘nakal’ yang tertulis di atas.

Manusia diciptakan dengan ‘isi kepala’ yang berbeda-beda. Setiap orang punya pandangan dan pendapat yang berbeda. Apa yang kita inginkan belum tentu diinginkan oleh orang lain. Apa yang kita anggap baik belum tentu dinggap baik oleh orang lain. Begitu pula ketika kita memiliki ‘mimpi’ tetapi tidak mendapat dukungan dari orang di sekeliling kita, terutama orang tua kita. Dilema. Di satu sisi kita ingin tetap memperjuangkan apa yang kita inginkan, tapi di sisi lain terbentur oleh keinginan orang tua.

Beberapa bulan lalu, kalau saja saya tidak sedikit ‘nakal’, tentu sekarang saya berada di suatu tempat yang tidak saya inginkan. Namun, kenakalan saya itu pun -saya yakin- termasuk dalam skenario yang Allah tuliskan untuk saya.

Awalnya, orang tua saya tidak setuju ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di jurusan komunikasi. Keikutsertaan saya dalam sebuah pelatihan jurnalistik saat duduk di kelas dua sma menumbuhkan minat besar saya pada dunia jurnalistik dan fotografi. Menurut orang tua saya, seorang cewek lebih baik menjadi pekerja kantoran daripada menjadi seorang jurnalis. Pekerjaan yang jam kerjanya tidak jelas, kata mereka. Jam berapa pun harus ’siap’ hunting news. Apalagi nanti kalau sudah punya suami takutnya tidak bisa mengatur rumah tangga dengan baik. (jauh amat mikirnya). Namun, karena saya merasa saya harus tetap memperjuangkan mimpi saya, apapun yang terjadi, akhirnya saya ‘nekat saja’ ikut spmb ipc dengan pilihan pertama ilmu komunikasi. Jelas orang tua saya tidak setuju, mereka ingin saya kuliah di kedokteran (keinginan semua orang tua) dan karena saya kekeuh dengan pendirian saya, mau tidak mau orang tua mengalah. Akhirnya. Hehe.

Waktu pengumuman spmb, saya sempat shock. Nomor yang saya tuliskan (saya lihat lewat internet) tidak terdaftar sebagai peserta yang lolos. Blarrr… Saya lemas. Tapi tiba-tiba salah seorang teman saya memberikan ucapan selamat lewat sms karena saya lolos spmb dan diterima pada pilihan pertama saya. Jelas dong awalnya saya tidak percaya, apalagi baru saja saya lihat sendiri tidak lolos. Saya pun mencoba mengulangi dengan memasukkan nama lengkap saya. Legaaaaaa… Ternyata memang benar saya diterima di jurusan yang saya inginkan. Ternyata (lagi) tadi saya salah menulis nomor ujian saya. Hehe. Senang sekali rasanya. Perjuangan tiga bulan saya belajar materi ips tanpa les berakhir membahagiakan.

Dari situlah, orang tua saya sadar bahwa keinginan saya itu bukan main-main. Tapi ini belum berakhir, karena masih banyak hal yang perlu saya buktikan pada mereka bahwa saya mampu bertanggung jawab atas segala keputusan yang saya ambil. ^^

h1

Hunting foto for the first time

Januari 1, 2009

Beberapa waktu lalu saya janjian dengan teman dekat saya untuk posting sebuah artikel. Awalnya sih janjian mau posting di hari yang sama, tapi ternyata dia udah duluan posting tuh. Jadi sekarang waktunya menepati janji. Takut dosa. Hehe.

Setelah melalui screening yang lumayan bikin salah tingkah dan mati gaya (halah), saya dan sha akhirnya diterima menjadi anggota sebuah ukm yang dari dulu sudah menjadi obsesi kami berdua, FFC ( Fisip Fotografi Club). Sebuah ukm tentang fotografi yang di dalamnya saya bisa belajar banyak, dari yang awalnya tidak tau sama sekali hingga sedikit demi sedikit mulai mengenal dunia baru itu. Nah, setelah pengumuman itu, kami harus mengikuti basic training selama empat hari, 18-21 desember 2008. Dua hari di kampus digunakan untuk pembekalan materi dasar fotografi dan dua hari sisanya dilanjutkan ke Bandungan, Semarang untuk mengaplikasikan materi yang sudah didapat.

Ternyata motret itu susah ya? Hehe. Dulu saya kira motret itu ya tinggal motret aja, lagipula sudah ada ’si pintar camdig’, semuanya jadi terasa mudah. Tapi setelah mendapat materi dasar fotografi, toeengg, “astaga, serumit itukah?”. Komposisi, diafragma, fokus, lighting dan semuanya yang sempat membuat kepala saya pusing tapi juga membuat saya semakin semangat dan tertarik mempelajarinya. (Salut lah buat para fotografer). Di basic training itu, kami diajari cara menggunakan kamera analog. Susah tapi menyenangkan.

Dua hari di Bandungan lah yang paling ditunggu-tunggu. Di sana kami harus mengaplikasikan apa yang sudah kami pelajari. Hunting foto untuk pertama kalinya. Ada dua kali hunting, hunting kecil di sekitar wisma penginapan dan hunting besar di pasar Bandungan. Keduanya dibagi dalam kelompok – kelompok kecil. Saya pribadi jujur agak bingung. Mau motret apa, difragmanya gimana, kecepatannya berapa, dan bla bla bla. Tidak jarang pula saat akan eksekusi foto, ternyata kamera ’shake’, atau kehilangan momen. Maklum lah, baru pemula. Hehe. Tapi lama-kelamaaan, asyik juga ternyata hunting foto. Hunting besar dari pagi sampai siang. Panas, capek, tapi ada kepuasan yang tidak ternilai. Ada yang motret pedagang, buah-buahan, kuda, bahkan kalau sudah bingung mau motret apa, akhirnya motret temen sendiri yang lagi bengong atau motret orang yang lagi motret. Hehe.

Yang penting ” Ayo motret ! ”

h1

UNS ku sayang, banyak yang tak kenal..

Desember 2, 2008

Beberapa waktu lalu di sebuah stasiun tv swasta, ada sebuah tayangan yang acaranya menceritakan kehidupan seorang guru SLB di kota Solo. Kemudian, sang narator berkata, ‘Wanita yang sempat menyelesaikan studi-nya di Universitas Negeri Surakarta ini . . . .(bla bla bla).
Wee, saya jadi bingung. Apakah universitas yang disebutkan sang narator itu merujuk pada singkatan UNS atau sekedar penjelas saja?(universitas yang berlokasi di Surakarta). Jika yang dimaksud sang narator merujuk pada singkatan UNS, maka yang terjadi adalah ’salah besar’. Alasannya, UNS adalah singkatan dari Universitas Sebelas Maret bukan Universitas Negeri Surakarta. Namun, jika kalimat sang narator tersebut berarti universitas yang berlokasi di Surakarta, bukankah seharusnya ada kata penghubung ‘di’, menjadi Universitas Negeri di Surakarta.

Wah, berbicara tentang singkatan UNS, saya jadi ingat beberapa orang yang masih saja salah menyebutkan kepanjangannya. Ada yang mengira UNS itu Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret, dan yang paling parah Universitas Negeri Solo. Ironis, ternyata masih banyak yang tidak tau singkatan UNS.

h1

Graffiti : seni atau vandalisme ?

November 13, 2008

Dua orang cowok memakai masker penutup hidung dan di tangannya tergenggam pilog sebagai “senjata aksi”. Keduanya terlihat asyik mencorat-coret tembok yang awalnya putih bersih. Sesekali mereka mellihat ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada seorangpun yang melihat mereka “beraksi”.

Yah, mereka lah yang sering kita sebut sebagai bomber. Sang seniman jalanan. Dan yang mereka gambar adalah street art atau yang lebih dikenal dengan graffiti.

Entah kenapa akhir-akhir ini saya tertarik dengan graffiti. Mungkin karena setiap hari saya selalu melewati jalan yang di tembok kiri-kanannya dipenuhi dengan graffiti. Unik. Yang pasti tidak semua orang bisa membuatnya.

Di Solo sendiri, graffiti sudah mulai menjamur. Sudah banyak tempat yang menjadi semacam ‘pameran terbuka’ karya-karya seniman jalanan.

Menurut saya, graffiti bukan sebuah vandalisme melainkan sebuah seni. Kenapa masih banyak orang yang menganggap itu vandalisme, mungkin karena para bomber memilih tempat yang salah untuk berkarya. Yah, itupun karena mereka tidak diberi space untuk berkarya. Jadi mereka terpaksa ‘mencuri tempat’ untuk mengekspresikan apa yang ingin mereka ungkapkan.

Komunitas bomber di kota Solo sendiri masih dipandang negatif bagi sebagian banyak orang. Padahal di kota lain seperti Bandung, komunitas ini bisa dirterima baik bahkan mereka diberi tempat khusus untuk berkarya. Kenapa di Solo tidak ?

h1

Kopi lagi kopi lagi

November 13, 2008

Kita mau ngopi dimana lagi ?

Pertanyaan yang akhir-akhir ini sering dilontarkan oleh seorang sahabat saya. Ya. Kami jadi punya hobi baru sekarang. Wisata kuliner tapi khusus kopi. (aneh)

Sebenarnya dia bukan seorang pecinta kopi. Tapi karena kebiasaan saya yang ‘gila kopi’, akhirnya menular juga pada teman saya. Demam minum kopi.

Kenapa suka kopi ? Kenapa bukan jus, jahe, atau yang lain ?

Jawabannya adalah karena dulu waktu kecil saya sering diam-diam meminum kopi yang sebenarnya dibuat untuk eyang saya. Hehehe. Nakal. Karena itulah sekarang saya jadi kecanduan. Meskipun sudah banyak orang yang bilang kebanyakan minum kopi itu tidak baik bagi kesehatan, tapi kok saya tetap ‘ngeyel’ ya ?

h1

be uR self

November 13, 2008

Be your self menjadi kalimat yang paling banyak digunakan ketika seseorang ditanya tentang motto hidupnya. Namun apakah ‘menjadi diri sendiri’ menjadi sesuatu yang penting yang harus kita lakukan ?

Emm.. Sebenarnya apa sih essensi dari kata be your self itu sendiri ? Apakah kita akan tetap menjadi diri sendiri meskipun banyak orang yang tidak suka dengan sifat kita ?

Be your self itu memang penting. Hal itulah yang akan menjadi ciri khas kita dan membuat kita berbeda dengan orang lain. Tapi masalahnya di sini adalah kita hidup dalam sebuah lingkungan yang mengharuskan kita berinteraksi dengan banyak orang. Dengan bermacam sifat dan karakteristik. Dan tidak semua orang bisa menerima kita apa adanya.

Yah, beruntunglah jika kita bisa diterima dimanapun kita berada. Tapi ada saat-saat dimana kita yang harus menyesuaikan diri. Tidak selalu menuntut orang lain yang memahami kita.

Saya jadi teringkat perkataan kakak tingkat saya beberapa waktu lalu. Bukankah lebih baik kita yang lebih dulu memahami orang lain daripada menunggu orang lain yang memahami kita. Dengan begitu orang akan lebih respect pada kita.

Intinya adalah, saya setuju ‘menjadi diri sendiri’ itu penting. Tapi tidak ada salahnya mencoba menganalisis keadaan sebelum menjadi diri sendiri seutuhnya. (lihat sikon lah)

Itu pendapat saya. Bagaimana pendapat anda ?